RSS

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN

13 Jan

Melandanya krisis ekonomi menjadi momok menakutkan bagi setiap negara di dunia. Berbagai negara mencari jalan keluar dengan melakukan berbagai inovasi dan memikirkan bagaimana cara untuk mengatasi permasalahan yang timbul kepermukaan. Sebagai suatu alternatif kini mulai di terapkan sistem ekonomi syariah di berbagai negara untuk mengelola keuangan dan menjadi solusi untuk keluar dari krisis ekonomi global.  Penggunaan sistem ekonomi syariah ini di harapkan dapat membawa dampak positif bagi masyarakat yang ada di negara tersebut.  Sistem ekonomi syariah menerapkan sistem yang adil, transparan, aman dan tidak menguntungkan orang tertentu dalam pelaksanaannya. Sesungguhnya ilmu ekonomi syariah juga sama dengan definisi ilmu ekonomi pada umumnya.  Tapi Ilmu ekonomi Syariah mempunyai tujuan yang tidak hanya demi kesejahteraan duniawi saja tetapi kesejahteraan spiritual, yaitu dengan menggunakan sumber-sumber hukum Islam.

Awalnya di Indonesia perkembangan ekonomi syariah masih belum booming dan masih diremehkan. Tapi seiring perkembangan keinginan dan harapan umat Islam yang menjadi dominan di Indonesia sangatlah kuat, keinginan itupun berkembang seiring dengan berkembang pemahaman masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi yang berdasarkan syariah. Kegiatan bisnis syari’ah yang pertama dikembangkan di Indonesia adalah dalam bentuk lembaga keuangan perbankan. Meningkatnya pengguna bank syariah dapat dilihat dari jumlah kantornya seperti table di bawah ini :

Table di atas menunjukan perkembangan Bank syariah di Indonesia yang dilihat dari jumlah kantor yang tersebar di berbagai wilayah tanah air. Peningkatan jumlah kantor dari tahun ketahun menunjukan bahwa perkembangan bank syariah mulai menjadi trend dan menyebar di berbagai wilayah di Indonesia. Data terakhir januari 2012 menunjukan ada 2.202 total kantor yang dimiliki bank syariah untuk melayani masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. Jumlah ini mungkin semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring semakin besarnya pengetahuan masyarakat tentang bank syariah.

Pada prinsipnya bank syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha yang dinyatakan sesuai syariah. Ekonomi syariah berbeda dengan ekonomi konvensional.  Perbedaan yang paling mendasar adalah konsep yang diberikan oleh kedua sistem ekonomi tersebut. Konsep ekonomi syariah  lebih mengutamakan sistem bagi hasil ke masyarakat.  Ekonomi islam dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya, memberikan keadilan, kebersamaan, kekeluargaan dan transparan untuk setiap pelakunya. Total penggunaan jasanyapun  dapat dilihat dari berbagai provinsi yang tersebar di Indonesia seperti table berikut ini:

Dari table di atas di dapat dari statistic perbankan syariah untuk January 2012, dimana di ketahui bahwa Modal keja yang paling besar didapat dari provinsi DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Selain itu, investasi dan konsumsi terbesarnyapun  adalah provinsi DKI Jakarta yang disusul oleh provinsi Jawa Barat. Ini menunjukan bahwa penyebaran bank syariah mulai mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya. Itu berarti semakin besarnya asset yang dimiliki oleh bank syariah seperti yang ditunjukan grafik berikut ini:

Perkembangan bank syariah semakin berkembang setimbang dengan perkembangan zaman yang semakin maju. Pemahaman masyarakat tentang fungsi bank syariah yang ternyata lebih memberikan efek yang lebih baik bagi perkembangan perekonomi Indonesia, menjadikan mereka berbondong-bondong untuk menggunakan jasa bank syariah. Itu dilihat dari grafik diatas yang memperlihatkan seberapa meningkat dan populernya bank syariah di Indonesia. Dari Januari 2011 hingga Desember 2011 peningkatan asetnya yang dimiliki selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Sumber : www.bi.go.idwww.ekonomisyariah.org

Ekonomi Syariah

Posted: April 2, 2012 in Bank dan Lembaga Keuangan

Krisis ekonomi global kini mulai mengancam banyak negara di dunia.  Berbagai negara sudah mulai melakukan inovasi dan memikirkan bagaimana cara untuk mengatasi krisis ekonomi global saat ini.  Sebagai suatu alternatif kini mulai di terapkan sistem ekonomi syariah di berbagai negara untuk mengelola keuangan dan menjadi solusi untuk keluar dari krisis ekonomi global.  Penggunaan sistem ekonomi syariah ini di harapkan dapat membawa dampak positif bagi masyarakat yang ada di negara tersebut.  Sistem ekonomi syariah menerapkan sistem yang adil, transparan, aman dan tidak menguntungkan orang tertentu dalam pelaksanaannya.

Ilmu Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia di dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang tidak terbatas dengan menggunakan alat pemuas berupa barang dan jasa.  Dengan sumberdaya atau alat pemuas terbatas, sehingga manusia harus menentukan pilihan dan skala prioritas.  Sesungguhnya ilmu ekonomi syariah juga sama dengan definisi ilmu ekonomi pada umumnya.  Tapi Ilmu ekonomi Syariah mempunyai tujuan tidak hanya demi kesejahteraan duniawi saja tetapi kesejahteraan spiritual, dengan menggunakan sumber-sumber hukum Islam.

Ekonomi syariah berbeda dengan ekonomi konvensional.  Perbedaan yang paling mendasar adalah konsep yang diberikan oleh kedua sistem ekonomi tersebut. Kalau konsep ekonomi konvensional lebih mengutamakan bunga sebagai keuntungannya, berbeda dengan konsep ekonomi syariah yang lebih mengutamakan sistem bagi hasil.  Ekonomi islam dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya, memberikan keadilan, kebersamaan, kekeluargaan dan transparan untuk setiap pelakunya.

Selain itu, perbedaan lainnya antara ekonomi konvensional dengan ekonomi syariah terdapat pada perjanjian kredit. Di mana ekonomi konvensional menggunakan perjanjian baku, yaitu ketentuan yang di berikan hanya dari satu pihak saja (yaitu bank). Sedangkan ekonomi syariah menggunakan perjanjian yang telah di setujui oleh kedua belah pihak (antara bank dan nasabahnya) di kenal sebagai perjanjian pembiayaan mudhorobah.

Penerapan ekonomi syariah ini tidak hanya di terapkan di negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam saja. Tetapi penerapan ekonomi syariah ini juga sudah mulai di lirik oleh beberapa negara yang mayoritas penduduknya adalan non-muslim. Sebenarnya mereka lebih mengutamakan manfaat dari penggunaan sistem ekonomi syariahnya dari pada agamanya.

Kelebihan yang dapat di ambil dari sistem ekonomi syariah yaitu sistem ini dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan, kebersamaan, menghapus kemiskinan, mendapatkan keadilan, tidak menguntungkan seseorang, transparan dan dapat memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat  baik muslim maupun non-muslim.  Hanya saja kekurangan dari ekonomi syariah yang ada di Indonesia adalah belum adanya payung hukum untuk perlindungannya.

Konsep ekonomi syariah selalu mengedepankan kejujuran, transparasi dan keadilan yang membuat sistem ini tumbuh pesat.  Perekonomian dengan menggunakan sistem ekonomi syariah ini masih di pandang sebelah mata di Indonesia, sesungguhnya sistem ini bisa menjadikan satu alternatif untuk keluar dari masalah krisis global.

Negara Indonesia adalah negara yang mayoritas pemeluk agamanya adalah islam, ternyata belum sepenuhnya menggunakan sistem ekonomi syariah.  Masalah kurangnya pemahaman menjadi salah satu faktor pengaruh belum sepenuhnya sistem ekonomi syariah berkembang di Indonesia.  Sebenarnya pemerintah di Indonesia harus fokus  dalam menerapkan sistem ekonomi syariah ini.  Banyak  manfaat yang akan di dapat kalau bangsa ini telah menggunakan sistem ekonomi syariah. Sebagai negara yang mayoritas masyarakatnya adalah islam sebenarnya lebih mudah menerapkan sistem ekonomi syariah ini.

Selain itu minimnya pakar ekonomi syariah yang benar-benar menguasai ilmu-ilmu tentang islam juga menjadi pengaruh belum berkembangnya sistem ekonomi ini di Indonesia. Tidak hanya itu peraturan, hukum dan kebijakan baik secara internasional maupun nasional belum memadai, serta belum sepenuhnya peran pemerintah untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah di Indonesia, di karenakan kurangnnya pemahaman dan pengetahuan tentang sistem ekonomi syariah yang membuat sistem dengan konsep islam ini belum sepenuhnya berkembang di Indonesia.

Kurangnya pemahaman tentang sistem ekonomi syariah ini membuat banyak di adakanya seminar-seminar untuk membahas mengenai sistem ini.  Selain itu untuk mengembangkan dan memberi pemahaman terhadap masyarakat luas, perlu adanya promosi produk-produk makanan dan minuman yang halal kepada masyarakat agar mengkonsumsi produk yang halal. Sistem ekonomi syariah ini juga memerlukan dukungan dari iklan, film dan media promosi lain untuk tidak mempertontonkan aurat dan minuman keras.  Pemerintah juga memerlukan kajian ulama yang bisa atau mengerti tentang ekonomi syariah di dalam al-Qur’an dan al-Hadis untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah.

Diagram di atas menjelaskan tentang terjadinya sistem kliring. Sebagai suatu ilustrasi bahwa Pak E mempunyai giro di bank A. Pak E melakukan transaksi kepada Pak U untuk membeli suatu barang dan membayarnya dengan menggunakan cek yang dibuat Bank A karena Pak E mempunyai giro di Bank A. Pak U yang mempunyai tabungan di Bank X memberikan cek yang diterima dari Pak E untuk ditukarkan atau ditambahkan uangnya di tabungannya yang berada pada Bank X. Bank X yang tidak mengetahui apakah cek yang dibuat Bank A ada saldonya atau tidak maka Bank X pergi ke Bank Indonesia untuk melakukan pengecekan dan menyerahkan warkat kliring (session 1). Kemudian oleh Bank Indonesia memberikannya kepada Bank A untuk dilakukan pengecekan apakah saldo tabungan yang ada atas nama Pak E mencukupi dana yang tertulis di dalam cek itu apa tidak. Jika mencukupi proses kliring akan di terima sedangkan jika tidak proses kliring tidak bisa dilakukan. Setelah melakukan pengecekan di Bank A bahwa proses kliring tetap dapat dilanjutan maka Bank A pergi ke BI untuk memberitahukan bahwa cek tersebut berisi saldo tabungan yang mencukupi sesuai dengan jumlah saldo yang tercatat di cek. Setelah melakukan pengecekan BI bisa langsung menyetujui proses kliring dan melakukan pemindah bukuan antara Bank A dengan Bank X yang ada di Bank Indonesia. Pemindah bukuan yang dilakukan sesuai dengan jumlah saldo yang tertera pada cek tersebut.

Dapat disimpulkan atas ilustrasi di atas bahwa kliring adalah proses tagih menagih antara bank atau penyelesaian piutang. Di dalam melakukan transaksi seperti ilustrasi di atas bukan hanya dua bank yang berbeda yang terlibat didalam proses kliring. Ada banyak bank yang melakukan transaksi seperti itu dalam sehari. Sebagai contoh lainnya : ada tiga bank yang terdiri dari Bank A, Bank B, dan Bank C. salah satu dari nasabahnya melakukan transaksi dan mendapatkan cek yang dibuat dari bank B sebesar 10 juta. Bank A juga mempunyai cek dari bank C sebesar 5 juta. Bank B pun mempunyai cek dari Bank A sebesar 20 juta dan mempunyai cek dari Bank C sebesar 5 juta. Begitupun dengan bank C yang mempunyai cek dari Bank A sebesar 15 juta dan cek dari bank B sebesar 10 juta. Dari ilustrasi di atas dapat di ringkas dengan bagan seperti berikut ini :

Bank A mempunyai cek Bank B sebesar 10 juta

Bank A mempunyai cek Bank C sebesar 5 juta

Bank B mempunyai cek Bank A sebesar 20 juta

Bank B mempunyai cek Bank C sebesar 5 juta

Bank C mempunyai cek Bank A sebesar 15 juta

Bank C mempunyai cek Bank B sebesar 10 juta

Untuk mengetahui bank manakah yang kalah dan menang maka dapat dilakukan cara seperti ini ;

Bank A

Bank B

Bank C

Warkat 1 + 10 juta –          10 juta
Warkat 2 + 5 juta –          5 juta
Warkat 3 –          20 juta + 20 juta
Warkat 4 + 5 juta –          5 juta
Warkat 5 –          15 juta + 15 juta
Warkat 6 –          10 juta + 10 juta
Jumlah –          20 juta + 5 juta + 15 juta

Kalau jumlah rekening kliring bertambah maka menang kliring dan jika rekening berkurang maka kalah kliring. Jadi, dari hasil jumlah yang didapat maka diketahui bahwa Bank A yang telah kalah karena telah berkurang 20 juta.

All About Bank

Posted: April 2, 2012 in Bank dan Lembaga Keuangan

Bank merupakan badan usaha di lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Bank biasa disebut perantara keuangan atau finansial intermediary karena fungsinya yang menyalurkan dana atau sebagai perantara bagi masyarakat yang kelebihan dana dan kekurangan dana. Selain itu bank juga sering dikatakan sebagai penjual uang karena fungsinya juga yang hanya menerima uang dari tangan kanan dan menyalurkan kembali uang itu dalam bentuk investasi dengan menggunakan tangan kiri. Bank mengolah dan meyeleraskan sumber dana (source of fund) dalam bentuk simpanan dana masyarakat (atau disebut dengan pihak ketiga atau surplus unit) dengan penyaluran dana berupa alokasi investasi (tapi dengan tetap mempertimbangkan likuiditasnya) didalam memanajemen dana bank.

Bank mendapatkan keuntungan dengan meminjamkan dana kepada masyarakat yang deficit dengan menentukan bunga dan membayarkan bunga kepada pihak ketiga karena telah menyimpan dananya di bank, sehingga selisih dari keduanya merupakan keuntungan yang didapat Bank. Misalkan : Si A menyimpan uanganya ke bank sebesar 1 juta dengan jaminan mendapatkan bunga sebesar 2% setiap bulannya, kemudian di Bank uang tersebut disalurkan kepada si B sebesar 1 juta dengan jaminan bahwa B akan membayar bunganya sebesar 3% per bulannya. Sehingga setiap bulannya bank harus membayar pada pihak ketiga yaitu si A sebesar Rp. 20.000,- dan menerima uang dari B sebesar Rp. 30.000,-. Sehingga selisih dari keduanya yang akan menjadi profit margin bagi Bank yaitu sebesar Rp. 10.000,-. Jadi, Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian bank dalam manajemen dana bank adalah profitabilitas bank dan memperhatikan likuiditas yang selalu dapat membayar kewajibannya terhadap potensi penarikan atau kebutuhan dana yang diminta oleh pihak ketiga.

Dengan memegang teguh asas demokrasi ekonomi yang menggunakan prinsip kehati-hatian demi terwujudnya pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional juga terwujudnya kesejahteraan rakyat banyak. Berdasarkan jenisnya bank terbagi menjadi dua yaitu bank umum dan bank perkreditan rakyat yang mempunyai fungsinya masing-masing. Dimana bank umum mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan yang lebih besar secara konvensional dan berdasarkan prinsip syariah yang memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedangkan bank perkreditan rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

 

Bank Indonesia mempunyai satu tujuan yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah dan nilai tukar yang wajar merupakan sebagian prasyarat bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kegagalan dalam memelihara kestabilan ekonomi diperlihatkan dengan naiknya harga-harga yang dapat merugikan karena berakibat menurunnya pendapatan rill masyarakat dan melemahkan daya saing perekonomian nasional dalam kancah perekonomian dunia. Tujuan Bank Indonesia untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah tersebut perlu ditopang dengan tiga pilar utama yaitu kebijakan moneter dengan prinsip kehati-hatian, sistem pembayaran yang cepat dan tepat serta sistem perbankan dan keuangan yang sehat.

Secara umum ciri khas dari laporan keuangan yang ada di bank terdiri dari neraca, laporan laba\rugi, dan laporan rekening administrative. Laporang keuangan rekening  administratif disebut juga sebagai daftar komitmen dan kontijensi yang artinya bersifat off balance sheet. Rekening ini bersifat sementara yang belum mempengaruhi neraca karena syaratnya belum terpenuhi. Sebagai contoh : adanya agunan dalam pemberian kredit, tapi agunan tersebut tidak bisa langsung dimasukan kedalam neraca. Selama kualitas kreditnya lancar maka agunan tidak bisa dimasukan kedalam neraca, tapi jika kreditnya macet maka agunan tersebut menjadi milik bank dan dapat dimasukan didalam posisi neraca bank. Laporan keuangan bank tidak hanya digunakan bagi bank itu sendiri, melainkan diperlukan juga oleh bank Indonesia sebagai lembaga pengawas bank serta masyarakat luas untuk menentukan bahwa bank  itu sehat atau tidak. Bank Indonesia pun tetap harus memberikan perlindungan kepada nasabah jika terkena dampak bank yang tidak sehat atau mengalami gangguan keuangan.

Oleh karena itu, salah satu peraturan perbankan yang paling penting dan mejadi muara akhir atau hasil dari aspek pengaturan dan pengawasan perbankan yang menunjukan kinerja perbankan nasional adalah tata cara penilaian kesehatan bank. Tata cara penilaian kesehatan bank ini secara umum telah megalami perubahan sejak peraturan pertama kali diberlakukan pada tahun 1999 (CAMEL). Selanjutnya peraturan tersebut dirubah pada tahun 2004.

All About LOAN

Manusia merupakan makluk sosial yang melakukan kegiatannya memerlukan bantuan dari orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung begitu juga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya . Tapi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mereka yang kekurangan dana harus mencari alternative lain dalam menyelesaikan permasalahanya untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Bank yang merupakan lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kemasyarakat bisa menjadi alternative dalam menyelesaikan masalah keuangannya dengan melakukan pinjaman atau yang biasa disebut dengan pinjaman kredit (LOAN). Sebagai lembaga keuangan yang dipercaya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat karena  dana yang disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau pinjaman dapat meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Definisinya sendiri, kredit adalah peminjaman uang atau tagihan yang dapat dipersamakan  dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan  pinjam-meminjam antara  bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya  setelah jangka waktu tertentu dengan  jumlah bunga, imbalan, atau pembagian  hasil keuntungan karena adanya timbal balik itu bank mendapatkan penghasilan.

Tujuan kredit adalah mendapat profitability yang aman dan bank pemerintah yang mengemban tugas sebagai agent of Development yaitu menyukseskan program pemerintah dalam ekonomi dan pembangunan, meningkatkan aktivitas perusahaan guna terjaminnya kebutuhan masyarakat, perolehan laba untuk kelangsungan hidup perusahaan dan perluasaannya. Semakin besar jumlah kredit yang disalurkan maka akan semakin besar pula  pendapatan bunga yang akan diperoleh oleh bank. Jumlah kredit  yang diberikan dan jumlah dana yang  digunakan bank untuk memberikan kredit  merupakan indikator yang digunakan  untuk menilai kesehatan bank.

Penilaian kesehatan bank ini dilihat dari salah satu rasio likuditas yaitu rasio untuk mengukur jumlah kredit yang dapat diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat yang dan modal sendiri bank tersebut. Rasio ini lebih dikenal sebagai Loan to Deposito Ratio yang biasa disingkat sebagai LDR. Oleh karena itu, semakin banyak jumlah kredit yang diberikan maka semakin tinggi pula LDRnya, berlaku juga kebalikannya. Ini juga memperlihatkan bahwa jumlah kredit yang diberikan dari LDR tinggi maka jumlah laba yang diterima oleh bank dari pendapatan bunganyapun akan semakin tinggi.

Besarnya Loan to Deposit Ratio (LDR) yang telah ditetapkan oleh pemerintah maksimum adalah 110%. Jumlah kredit yang diberikan biasanya relative naik namun tak berarti jumlah kredit tidak akan turun. Jumlah kredit yang menurun karena permintaan terhadap kredit yang berfluktuatif.

Pada dasarnya LDR pada periode tersebut pada umumnya  berada di bawah batas aman yang telah disepakati perbankan, karena perhitungan LDR menyangkut dana masyarakat dan modal bank itu sendiri. Pendapatan bunga dari LOAN menunjukan kenaikan dan penurunan yang tidak stabil dan cukup besar. Karena terjadinya factor seperti adanya kredit bermasalah atau terjadinya persaingan.

Rumus Loan to Deposit Ratio (LDR)

Semakin tinggi Loan to Deposit Ratio menunjukan bahwa rendahnya kemampuan likuiditas bank yang besangkutan, hal ini dikarenakan jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar pula. Begitupun sebaliknya, jika angka Loan to Deposit Ratio yang rendah menunjukan bahwa tingkat tingginya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan, karena bank tersebut tak perlu mengeluarkan jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin kecil.

Ketentuan  Loan  to  Deposit  Ratio  menurut  Bank  Indonesia  pada  surat edaran  Bank  Indonesia  No.  26/5/BPPP  tanggal  29  Mei  1993  perihal  tata  cara penilaian  tingkat  kesehatan  bank  umum,  menyatakan  bahwa  tingkat  kesehatan bank  untuk  kepentingan  semua  pihak  yang  terkait,  maka  Bank  Indonesia menetapkan :

  1. Untuk  Loan  to  Deposit  Ratio  sebesar  110%  atau  lebih  diberi  nilai  kredit  nol (0), artinya likuiditas bank tersebut tidak sehat.
  2. Untuk  Loan  to  Deposit  Ratio  di  bawah  110%  diberi  nilai  kredit  100,  artinya likuiditas bank tersebut sehat.

Batas aman Loan to Deposit Ratio suatu bank secara umum adalah sekitar  90%-100%,  sedangkan  menurut  ketentuan  bank  sentral  batas  aman  Loan  to  Deposit  Ratio adalah 110% (Simorangkir, 2000:147).  Rasio  ini  juga  merupakan  indikator  kerawanan  dan  kemampuan  suatu bank, dimana sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman Loan to Deposit Ratio dari suatu bank adalah 80 %. Namun, batas toleransi berkisar antara 85 % – 110 %.

Tujuan penting dari perhitungan LDR adalah untuk mengetahui serta menilai sampai berapa jauh bank memiliki kondisi sehat dalam menjalankan operasiatau kegiatan usahanya. Dengan kata lain LDR digunakan sebagai suatu indikator untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu bank.

Penyebab LDR Rendah

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa perbankan nasional pernah mengalami kemerosotan jumlah kredit karena diserahkan ke BPPN untuk ditukar dengan obligasi rekapitalisasi. Begitu besarnya nilai kredit yang keluar dari sistem perbankan di satu sisi dan semakin meningkatnya jumlah DPK yang masuk ke perbankan, maka upaya ekspansi kredit yang dilakukan perbankan selama sepuluh tahun terakhir sepertinya belum berhasil mengangkat angka LDR secara signifikan.

Fungsi LDR

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa LDR pada saat ini berfungsi sebagai indikator intermediasi perbankan. Begitu pentingnya arti LDR bagi perbankan maka angka LDR pada saat ini telah dijadikan persyaratan antara lain :

  1. Sebagai salah satu indikator penilaian tingkat kesehatan bank.
  2. Sebagai salah satu indikator kriteria penilaian Bank Jangkar (LDR minimum 50%),
  3. Sebagai faktor penentu besar-kecilnya GWM (Giro Wajib Minimum) sebuah bank.
  4. Sebagai salah satu persyaratan pemberian keringanan pajak bagi bank yang akan merger.

Loan to Deposit Ratio diberlakukan kepada seluruh bank diusahakan diseragamkan semua. Agar tidak ada pengecualian perhitungan LDR di antara perbankan.

Sumber : Jurnal Pengaruh Pemberian Kredit Terhadap LOAN To Deposit Ratio dan Dampaknya Pada Pendapatan Bunga Bank.

oleh : Iman Pirman Hidayat  (Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi) dan Hana Hujaemah (Alumni Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi).

 

INTEREST

Posted: Juni 4, 2012 in Bank dan Lembaga Keuangan 2

Pada setiap akhir dalam proses saldo rekening dikenal dua hal yaitu Akhir Hari dan Akhir Bulan. Akhir Hari merupakan proses perhitungan saldo akhir rekening. Sedangkan, Akhir Bulan merupakan perpaduan antara Akhir Hari yang di tambah bunga yang nantinya akan menjadi hasil akhir dan menjadi saldo awal bulan berikutnya. Penghitungan bunganya seperti berikut :

Gambar 1. Perhitungan bunga

Kalo bunga dihitung pada sisi Liabilities pembaginya tidak akan berubah yaitu 365. Sedangkan jika bunga dihitung pada sisi Assets pembaginya akan berubah menjadi 360. Untuk memperjelas cara penghitungan bunga lihatlah contoh dibawah ini :

Atun memiliki tabungan pada Bank Siti dan melakukan transaksi selama satu bulan dengan bunga sebesar 10% sebagai berikut :

Perhitungan bunga dapat dilihat dari saldo terendah, saldo rata-rata, dan saldo harian. Dari saldo terendah kita dapat melihat atau menggunakan saldo terendah dari transaksi tersebut. Saldo rata-rata dilihat dengan menggunakan saldo rata-rata selama satu bulan. Yang terakhir saldo harian menggunakan saldo harian setiap adanya transaksi.

1.      Saldo Terendah

31 jumlah hari dalam sebulan karena transaksi adalah bulan mei jumlah harinya adalah 31 hari.

5 adalah tanggal pertama terjadinya transaksi.

1 ditambahkan hanya terjadi pada akhir bulan saja.

2. Saldo Harian –> pencatatan penghitungan setiap adanya transaksi

Penjumlahan xx keempatnya akan menghasilkan suku bunga kredit per bulan xxx

3.      Saldo Rata-rata

Jadi, jumlah saldo pada awal bulan ke enam adalah saldo akhir + bunga –> 35 + xxx

Saldo akhir sebesar 35 telah dikurang dengan adiministrasi dan pphnya  jumlahnya akan masuk ke portofolio neraca. Sedangkan bunganya sendiri akan dimasukan kedalam laporan laba rugi.

Pada bulan tersebut terjadi transaksi pinjaman LOAN sehingga rate pinjaman LOAN bunga per bulan dapat dihitung dengan Flat atau Fix dan Anuitas. Misalkan pada tanggal 31/5 terjadi pinjaman pinbuk LOAN.

Rumus Flat atau Fix diperihatkan dalam contoh berikut ini :

Atun meminjam 10 juta dengan bunga 10% per tahunnya selama tiga tahun.

10 juta selama tiga tahun berarti 30% bunganya = xxx/36 = xx

Jadi, bunga pinjaman per bulannya adalah xx contohnya pada leasing atau pembiayaan perhitungan bunga ini dilakukan.

Nb: 36 adalah jumlah bulan selama 3 tahun

Rumus Anuitas diperlihatkan dalam contoh berikut ini :

Atun memiliki pinjaman kredit dengan bunga sebesar 15% dan melakukan transaksi sebagai berikut ini :

10/5 setor tunai 30 juta

13/5 pinbuk bedit tabungan 20 juta

18/5 pinbuk debit deposito 20 juta

20/5 pinbuk kredit deposito  15 juta

Penjumlahan xx keempatnya akan menghasilkan suku bunga kredit per bulan xxx. Menghasilkan  saldo akhir + bunga –> 55 + xxx

Nb: saldo akhirnya akan ditambah biaya administrasi. Biaya ini akan dimasukan sebagai fee based income. Sedangkan jika terdapat selisih antara bunga (use of fund) dengan pinjaman bunga deposit (source of fund) disebut sebagai interest speread.

Kasus Pertama :

Pada suatu hari Atun yang mempunyai tabungan di Bank BRI Jakarta dan harus mengirimkan sejumlah uang kepada Joko yang mempunyai rekening di  BPD Papua. Dari ilustrasi di atas, kita ketahui bahwa Atun dan Joko mempunyai rekening pada bank yang berbeda. Selain Bank yang berbeda, tempat kedua bank tersebutpun berbeda pula. Oleh karena perbedaan tersebut, kedua bank  harus mencari dimana suatu wilayah atau daerah terdapat kedua bank tersebut, skema alurnya akan diperlihatkan sebagai berikut :

Gambar 1. Skema Alur Transaksi Jika Kedua Bank dan Wilayahnya Berbeda.

Setelah ditelusuri, tenyata di wilayah Makasar terdapat kedua bank tersebut berdiri. Disanalah akan terjadi proses transaksi kliring. Tapi sebelumnya BRI Jakarta tempat Atun menyimpan uangnya akan mentrasfer sejumlah uang ke BRI Makasar dengan mengurangkan jumlahnya pada di Rekening Antar Kantor dan mengurangkannya pula pada tabungan Atun. Kemudian, BRI Makasar akan melakukan sistem kliring antara BRI Makasar dengan BPD Makasar. Jumlah uang yang telah dikirimkan melalui proses kliring akan masuk kedalam R/K pada BI atas nama bank BPD Makasar, kemudian BPD Makasar akan merntransfer uang itu ke BPD yang ada di Papua dimana Joko memiliki akun rekening tabungan. Jurnal pencatatan di setiap bank dapat di lihat pada gambar diatas.

Kasus Kedua :

Pada kasus kedua hampir sama dengan kasus pertama. Dimana Atun yang akan mengirimkan sejumlah uang  kepada Joko, ternyata keduangnya memiliki rekening pada bank yang berbeda. Tapi setelah di telusuri dimana kedua bank tersebut berdiri pada satu daerah tidak ditemukan satupun di pelosok penjuru tanah air. Oleh karena tidak adanya satu daerah sama yang ditempati oleh kedua bank hadirlah bank lain yang berdiri pada satu wilayah yang sama. Alur peruputarannya dapat kita lihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 2. Skema Alur Transaksi Jika Kedua Bank dan Wilayahnya Berbeda dan Tak Ada Satu Wilayah yang Sama Berdirinya Kedua Bank Tersebut.

Bank Niaga tempat Atun menyimpan uangnya yang akan dikirimkan kepada Joko, yang memiliki rekening di BPD Papua ternyata tidak menemukan satu wilayah yang sama dimana kedua bank tersebut berdiri. Karena itu, bank Niaga Jakarta akan mencari bank lain yang memiliki cabang pada satu wilayah yang sama dengan BPD Papua. Setakh ditelusuri, ternyata BRI Makasar satu daerah dengan BPD Papua yang ada di Makassr. Bank Niagapun segera melakukan proses kliring ke bank BRI Jakarta, kemudian BRI Jakarta akan mentransfer sejumlah uang kepada BRI Makasar. Uang yang telah diterima BRI Makasar selanjutnya akan dilakukan  sistem kliring dengan BPD Papua Makasar. Setelah diterimanya uang tersebut, BPD Makasar akan mentransfer sejumlah uang ke BPD Papua dimana Joko merupakan nasabah bank tersebut. Jurnal pencatatannyapun dapat dilihat pada gambar diatas.

Kasusu Ketiga :

Pada kasus ketiga ini ternyata pengiriman uang dibatasi oleh Negara yang berbeda. Sebagai ilutrasinya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 3. Skema Alur Transaksi yang Dibatasi Oleh Dua Negara yang Berbeda.

Atun ternyata pergi ke Luar Negeri sebagai TKI yang akan mengirimkan sejumlah uang kepada Joko sang suami yang berada di Indonesia. Atun ingin mengirimkan uang gaji yang diterimanya kepada sang suami yang tinggal di Indonesia. Ada dua cara yang dapat ditempuh untuk melakukan transaksi antar Negara tersebut.

Yang pertama Atun memberikan uangnya kepada Bank of Saudi  kemudian Atun akan mendapatkan surat. Surat yang diterima Atun segera dikirimkan kepada Joko yang berada di Indonesia. Joko yang telah menerima surat tersebut segera mencairkan uang itu di Bank  BNI Jakarta. Proses ini dikatakan sebagai Bank Draft yang diperlihatkan pada alur yang berwarna krem.

Yang kedua  dengan melakukan proses Payment Order. Payment Order dapat dilihat pada gambar diatas dengan alur perwarna pink. Atun yang memiliki uang akan memberikan uangnya kepada Bank of Saudi kemudian mengirimkannya kepada Bank BNI Jakarta yang telah mempunyai hubungan kerjasama atau hubungan baik antar kedua bank tersebut. Tanpa adanya hubungan baik antar kedua bank tersebut, yang berbeda Negara pula tak akan dapat melakukan proses transaksi. Hubungan baik antara Bank of Saudi dengan BNI Jakarta disebut dengan Corespondent Bank. Setelah mendapatkan uang, BNI Jakarta segera memberitahukan Joko dengan mengirimkan surat kemudian Jokopun segera mencairkan uangnya ke Bank BNI Jakarta.

Sedangkan pada alur yang berwarna ungu, Atun yang datang ke Bank of Ahmed malah direkomendasikan Bank of Saudi yang telah mempunyai hubungan baik dengan Bank BNI Jakarta. Atun bisa saja langsung pindah tempat melalui Bank of Saudi atau dapat menggunakan jasa Bank of Ahmed untuk mengerjakan semua transaksi itu melalui Bank of Saudi.

Dari studi kasus diatas diperlihatkan bahwa transfer dan kliring merupakan dua hal yang berbeda. Transfer merupakan proses pemindahan uang yang dilakukan oleh Bank yang sama tapi beda daerah atau kantornya berbeda. SedangkanKliring adalah proses pemindahan uang yang dilakukan oleh dua bank yang berbeda dalam satu wilayah yang sama dengan menggunakan perantara jasa Bank Indonesia.

Gambar 1. Sisi Liabilities dan sisi Assets pada Bank

Pada sisi Liabilities yaitu source of fund securities yang dimiliki bank didapat dari Pasar Modal (PM) dalam bentuk Bond, yang kedua Pasar Uang Antar Bank dalam bentuk Call Money, yang ketiga Kredit Likuiditas Bank Indonesia sebagai contohnya adalah melakukan pinjaman kepada Bank Indonesia, dan yang terakhir Pinjaman Holding yang akan meminjam dana langsung pada pemilik atau petingginya. Sama dengan Liabilities hanya saja pada Securities pada sisi Assets terdiri dari 3 investasi yaitu pada PM, PUAB, dan Pinjaman Holding. Pada sisi Liabilities securities yang dilakukan bank dengan cara menjualnya untuk mendapatkan source of fund sedangkan pada sisi Assets bank akan membeli securities sebagai investasi atau use of fund. Selain securities pada Assets, terdapat pula cash reservers dan juga Loan yang memiliki tingkat suku bunga yang diperlihatkan pada gambar dibawah ini :

Gambar 2. Sisi Liabilities dan sisi Assets pada Bank

Bank mempunyai tingkat tolak ukur liquiditas yang dilihat dari kas dan R/K pada BI yang dikeluarkan Cash Reservers. Seperti panah yang ditunjukan pada gambar tersebut bahwa sumber dana yang didapat dari cash reserves didapat dari securities dan deposito yang terdiri dari giro, tabungan, dan deposito. Dana dari securities dapat diambil jika ada Call Money pada bank tersebut. Dana yang diterima kemudian akan disalurkan untuk menjadi kas di dalam bank dan menjadi sumber dana R/K pada BI. Selain itu, cash reservers pada assets ada juga LOAN yang sumber dananya didapat dari deposito dan capital. Jumlah sumber dana yang didapat untuk LOAN dapat dilihat pada Loan Deposit Rasio (LDR) dan juga KUK/KIK (Kredit Usaha Kecil).

KUK/KIK = minimal 20% dari LOAN

Suku bunga yang ditetapkan untuk KUK harus lebih kecil dari tingkat suku bunga (i) deposit tapi harus lebih besar dari tingkat suku bunga (i)  tabungan. Secara logika, karena deposit terdiri dari gabungan tiga jenis rekening yaitu giro, tabungan, dan deposito jadi bunganya pasti besar sehingga (i)  deposito harus < (i)  KUK tapi harus lebih besar dari salah satu rekening deposito tersebut miasalnya rekening tabungan sehingga, (i)  KUK harus > (i)  tabungan.

Bank tidak selalu mendapatkan keuntungan kadang bank juga mendapatkan kerugian salah satunya terjadinya Negative Miss Match yang dikodisikan kedalam dua hal, yaitu :

  1. Tingkat suku bunga tabungan lebih tinggi dari pada tingkat suku bunga pinjaman.
  2. Dana jangka waktu pendek dipinjamkan dalam jangka waktu panjang.

Biasanya kerugian bank masih dapat tertutupi oleh berbagai investasi (use of fund) yang dilakukan oleh bank tersebut. Selain itu, tidak sedikitnya jumlah nasabahpun setidaknya kadang dapat menutupi kerugian tersebut. Karena bank tidak hanya memiliki satu nasabah saja, nasabah bank bisa sampai ratusan orang yang terdiri dari nasabah bank kantor pusat, nasabah bank kantor cabang, nasabah bank cabang utama, dan juga nasabah kantor cabang pembantu sehingga, total nasabahnya bisa mencapai ratusan orang diseluruh penjuru tanah air. Seperti gambar di bawah ini, dimana kantor pusat memiliki berbagai cabang kantor yang berada hampir di seluruh penjuru tanah air.

Gambar 3. Nasabah Bank di Setiap Kantor

Untuk membedakan nasabah tersebut, bank memiliki database nasabah dengan memberikan nomer kepada setiap nasabah yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda pula. Pemberian nomer pada nasabah dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 3. Cara bank memberikan nomer kepada setiap nasabahnya

Cek digit digunakan untuk tidak terjadi kekeliruan pada suatu bank.

Seperti yang telah kita ketahui, Bank merupakan lembaga atau badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan atau plus (source of fund) dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya (use of fund) dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Itu menandakan bahwa dana yang didapat oleh bank dari masyarakat yang (+) disebut sebagai source of fund pada bank yang ada pada sisi Liabilities, sedangkan dana yang dikeluarkan bank untuk berinvestasi atau memberikan pinjaman kepada masyarakat yang (-)  disebut use of fund yang ada di sisi Assets seperti gambar dibawah ini :

Gambar 1. Source of fund di sisi Liabilities dan Use of fund di sisi Assets

Dari gambar di atas kita bisa melihat bahwa ketika ada sumber source of fund yang masuk (+)  maka dana itu akan masukan di sisi kredit dan begitupun sebaliknya. Sedangkan bank yang mendapatkan uang untuk berinvestasi dari source of fund akan menambah (+) nilai assets pada sisi debit.  Sebagai contoh Atun menabung di bank sebesar 10 juta tunai maka bank akan mencatat masuknya uang tersebut: bertambah kas (assets) di debit dan bertambah tabungan (source of fund) di kredit. Seorang nasabah kadang juga melakukan PINBUK yaitu pemindah bukuan dari deposito ke tabungan misalnya. Pemindah bukuan dari deposito ke tabungan dinamakan pinbuk debit karena dilihat dari arus pinbuknya yaitu dari deposito ke tabungan. Jika berkebalikannya, pinbuk terjadi dari tabungan ke deposito maka dinamakan sebagai pinbuk kredit.

Berbagai fasilitas diberikan bank untuk menarik nasabahnya untuk menabung maupun melakukan pinjaman dari semakin mudah akses ke bank, semakin banyaknya program hadiah yang dibuat oleh bank untuk menarik banyak nasabah. Nasabahpun semakin tergiur melakukan transaksi dan kebanyakan nasabah sekarang lebih menggunakan bank sebagai perantara transaksi. Salah satunya transaksi yang dilakukan tanpa mengeluarkan uang tunai yang digantikan dengan menggunakan cek atau dengan bilyet giro. Cek memudahkan yang membawanya untuk mengambil tunai atau menambahkan uang tersebut kedalam buku tabungannya. Sedangkan bilyet giro tidak  dapat diambil jika tidak sesuai dengan nama yang tertera dan selain itu mengharuskan penerimanya mempunyai buku rekening.

Di dalam Bank terdapat istilah sistem kliring dan call money. Sistem kliring adalah proses pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antar peserta kliring atas nama peserta maupun nama nasabahnya yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu. Sedangkan Call Money adalah peminjaman dana dalam jangka pendek (hanya dalam hitungan hari) antar bank untuk mengatasi kekurangan atau kelebihan dana jangka pendek yang bersifat sementara. Bank Indonesia mau menjadi perantara antar bank didalam sistem kliring dengan syarat bank harus memiliki Rekening Koran pada Bank Indonesia (R/K pada BI) atau biasa disebut dengan Giro Wajib Minimal sebesar 8% dari total deposit atau pinjaman masyarakat. Legal Reserve Requirment (LRR) merupakan nama lain juga dari R/K pada BI. Sistem kliring yang terjadi antar bank yang berbeda kita bisa lihat pada bagan dibawah ini :

Gambar 2. Sistem Kliring

Gambar di atas terdiri dari 3 kasus yang berbeda sesuai dengan warna alurnya. Pada kasus yang pertama yang di perlihatkan pada alur yang berwarna hitam terjadi transaksi antara Joko yang memberikan  uang sebesar 50 Juta kepada Atun untuk membayar kerupuk. Joko membayar uang tersebut dengan menggunakan cek atas nama bank tempat dia menabung yaitu Bank Siti Jakarta kepada Atun yang memiliki buku rekening di Bank Karman Jakarta. Atun ingin menukarkan uang sesuai nilai nominal yang ada di dalam cek tersebut dan menambahkannya pada rekening tabungannya di Bank Karman Jakarta. Bank Karman belum mengetahui apakah benar jumlah nominal yang tertera pada cek tersebut ada saldonya atau tidak, oleh karena itu bank Karman melakukan pengecekan pada Bank Indonesia yang menjadi perantara antar bank tersebut dengan mengirimkan nota debet keluar ke BI. Setelah itu BI akan segera mengeluarkan nota debet masuk kepada bank Siti untuk melakukan pengecekan benar atau tidak uang Joko yang ada di bank Siti memenuhi nilai nominal yang tertera pada cek. Jika tabungan yang dimiliki Joko mencukupi pembayaran transaksi sesuai dengan jumlah nominal tersebut kliring akan di setujui oleh Bank Indonesia. Saat nota debet keluar diterima BI, BI akan melakukan pencatatan untuk mengurangi R/K Siti (db Siti) lalu dipindahkan ke R/K Karman (kr Karman), seperti yang di tunjukan jurnal dibawah ini :

Gambar 3. Jurnal transaksi yang dicacat Bank Indonesia

Kasus keduanya dapat dilihat pada alur yang berwarna biru yang menceritakan bahwa Atun mengirimkan uang dengan cek dengan jumlah 100 juta kepada Joko. Seperti kasus yang pertama Jokpun ingin mencairkan uang tersebut di bank tempat dia memiliki rekening yaitu Bank Siti. Alur skemanyapun sama seperti kasus pertama hanya saja jurnalnya berbeda yang dicatat oleh Bank Indonesia, pencatatanya jurnalnya seperti gambar dibawah ini :

Gambar 4. Jurnal transaksi yang dicacat Bank Indonesia

Kasus ketiganya berbeda dengan kasus pertama maupun kasus yang kedua. Pada kasus ketiga ini terjadi penolakan kliring yang dilakukan Bank Indonesia karena mendapatkan informasi bahwa jumlah nominal yang tertera pada cek tidak sesuai dengan jumlah uang yang ada pada rekening tabungan nasabah tersebut. Sebagai contoh kasus tiga diperlihatkan oleh alur skema berwarna merah yang menjelaskan bahwa Joko memberikan cek kepada Atun dengan nominal sebesar 50 Juta tapi ternyata dana yang dimiliki Joko di Bank Siti tidak mencukupi nilai nominal cek tersebut. Karena BI telah menerima nota debet keluar maka BI akan melakukan pencatatan, tapi ternyata saat pengecekan pada Bank Siti terhadap jumlah tabungan Joko, tabungnya tidak mencukupi untuk melakukan transaksi tersebut sehingga BI mengeluarkan Penolakan Kliring. Data yang telah masuk atas nama nasabah tersebut (Joko) akan di BLACKLIST oleh Bank Indonesia. Kemudian, Bank Indonesia mencatat jurnalnya seperti jurnal di bawah ini :

Gambar 5. Jurnal transaksi yang dicacat Bank Indonesia

Dalam sistem kliring akan ada bank yang menang maupun kalah.  Bank yang menang pada akhirnya akan memiliki saldo yang lebih atau plus (+) sebaliknya, bank yang kalah pada akhirnya akan memiliki saldo yang kurang atau minus (-). Dapat dilihat dari gambar berikut ini :

Gambar 6. Saldo akhir yang diterima menunjukan positif ataupun negative

Sebagai contoh untuk menjelaskan gambar di atas diumpamakan bahwa Bank Siti mempunyai deposit sebesar 100 juta. Jadi, Giro Wajib Minimum atau disebut juga sebagai Legal Reserve Requirment (LRR) sebesar 8% dari total deposit yaitu 8 juta untuk R/K pada BI. Ternyata pada akhirnya bank tersebut kalah sebesar (-) 2 juta sehingga LRR yang seharusnya ada di BI akan berkurang menjadi 6 juta. Lain kasus pada Bank Karman yang memiliki deposit sebesar 100 juta LRR yang wajib disimpan di BI adalah 8 juta, tapi ternyata Bank Karman membayar sebesar 10 juta untuk R/K pada BI, kelebihan dari LRR yang sudah di penuhi yaitu sebesar 2 juta disebut sebagai kelebihan giro wajib minimum atau biaya disebut Excess Reserves (ER). Bank Karman ternyata pada akhirnya menang kliring sebesar (+) 2 juta. Jadi, R/K pada BI yang ada atas nama Bank Karman akan bertamah 2 juta menjadi 12 juta.

Sebenarnya kalah menangnya bank dalam sistem kliring tidak mempengaruhi likuiditas Bank Indonesia selama kekalahan bank yang akan mengurangi jumlah R/K pada BI tidak lebih kurang dari jumlah Giro Wajib Minimum yang telah di syaratkan oleh BI. Jika, kekalahan tersebut ternyata jumlah R/K pada BI berkurang sampai di bawah  Giro Wajib Minimum yang ditentukan BI, maka bank tersebut harus melakukan pinjaman terhadap bank yang telah menang kliring atau pada bank yang Giro Wajib Minimumnya berlebih, dengan kata lain memiliki ER yang besar juga yang di sebut dengan CALL MONEY. Sebagai contoh di atas bahwa Bank Siti ternyata saldonya berkurang hingga di bawah LRR yang telah ditetapkan. Maka, Bank Siti harus melakukan Call Money pada Bank Karman. Call Money yang dilakukan Bank Siti akan dicatat di sisi Liabilities yang bertambah dan Bank Karman Assets Securitiesnya bertambah. Call Money memiliki bunga yang terdiri dari Pa dan Pn. Pa merupakan bunga yang dihitung secara annual dan Pn merupakan bunga yang dihitung secara per satu malam. Kebanyakan tingkat bunga Pn dilakukan sebagai penghitung suku bunga call money dan suku bunga kredit pula.

Tingkat suku bunga kredit investasi dari keempat kelompok bank terjadi penurunan dan juga peningkatan yang signifikan. Namun, jika dilihat secara keseluruhan dari data statistic yang ada, tingkat suku bunga kredit investasi dalam sepuluh tahun terakhir mengalami penurunan. Tingkat suku bunga pada tahun 2002 yaitu sekitar 17% sedangkan ditahun 2011 tingkat suku bunganya hanya sebesar 10%.

Jika dilihat dari masing-masing kelompok bank ternyata rata-rata tertinggi tingkat suku bunga kredit investasi terjadi pada kelompok bank BPD (Bank Perkreditan Daerah) yang disusul oleh BUSN (Bank Umum Swasta Nasional) kemudian BUMN (Bank Umum Milik Negara) dan yang terakhir rata-rata tingkat suku bunga yang terendah terjadi pada kelompok bank JV (Joint Venture), seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini:

Terlihat jelas bahwa rata-rata suku bunga kredit investasi terbesar yaitu sekitar 14.80% dan yang terendah sebesar 12.87%. Data statistic yang telah tersedia di atas memperlihatkan bahwa terjadi lonjakan yang sangat signifikan pada tahun 2005 dan 2008. Kenaikan tingkat suku bunganya dapat kita lihat dari diagram berikut ini :


Kenaikan drastis tersebut terjadi karena tingkat inflasi yang juga naik secara drastis pada tahun tersebut sehingga mengubah tingkat suku bunga kredit investasi. Kenaikan tingkat suku bunga kredit investasi dikarenakan masih tingginya presepsi perbankan terhadap penyaluran kredit jangka panjang yang dilihat dari pertumbuhan kredit investasi yang rendah. Tercatat pada tahun 2005 terjadi inflasi terbesar semenjak pasca reformasi yaitu sebesar 17.11% dikarenakan kenaikan harga barang kebutuhan meningkat sejalan dengan disusulnya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sedangkan pada tahun 2008 di Indonesia terjadi inflasi yang cukup besar pula yaitu sebesar 6 sampai 6.5% yang juga disebabkan oleh lonjakan harga komoditas pangan.Dari diagram itu muncul pertanyaan mengapa pada tahun 2005 dan 2008 terjadi kenaikan yang sangat drastis?

Tetapi mengapa bank BPD pada tahun tersebut justru stabil menurun?

Hal ini mungkin dikarenakan masih kurangnya keinginan masyarakat daerah untuk meminjam dana investasi jangka panjang di bank. Selain itu, tingkat bankable di daerah masih rendah. Mungkin masyarakat di daerah masih lebih tertarik meminjam di  koperasi yang pada dasarnya bersifat kekeluargaan. Dan juga jumlah peminjam di BPD masih sangat sedikit, sehingga tingkat resiko terhadap kredit macet juga kecil.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 13, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: